Rabu, 25 Agustus 2010

Waiting in Vain

But I know now that I'm way down on your line
But the waiting feeling's fine
(Annie Lennox - Waiting in Vain)

Ini sekedar pemikiran iseng dan random aja. Tadi pagi, sewaktu berada di atas angkot, tiba-tiba saja penggalan lagu Waiting in Vain itu berputar di kepala gue. Lama-kelamaan, berkembang menjadi sebuah pemikiran iseng...

Banyak orang mengatakan bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling mereka benci. Apalagi menunggu dan akhirnya sia-sia saja (wait in vain). Nah, menurut gue, seorang sopir angkot-lah yang paling sering wait in vain. Lihat saja, demi mengejar setoran, which will lead to nafkah buat anak-istri, seorang sopir angkot harus berusaha keras memperoleh banyak penumpang dalam satu rute perjalanannya. Makanya, tiap hari, seorang sopir angkot pasti berhenti di setiap persimpangan jalan, atau pintu masuk sebuah gang/lorong, dengan harapan akan mudah menggaet penumpang.


Tapi kalo diperhatikan, lebih sering penantian seorang sopir angkot berujung pada kesia-siaan. Sudah menghabiskan lima, kadang sampai sepuluh menit untuk menunggu penumpang yang menyeberang jalan. Eh... si penumpang malah jalan terus, karena memang tidak berniat menumpang angkot itu. Semakin sepi penumpang, maka penantian seperti itu akan lebih sering dilakukan oleh sang sopir. Dipenuhi pengharapan akan memperoleh penumpang, satu orang saja sudah syukur banget. 

1 orang penumpang = Rp3.000. Kalo sial, si penumpang hanya membayar Rp2.000.

Sayangnya, kembali lagi, dalam sehari, terhitung jumlah seorang sopir menghentikan mobilnya tidak memperoleh penumpang lebih banyak dari mendapat penumpang. Jadi, jika ditumpahkan ke dalam sebuah nominal, akan menjadi seperti ini.

Sekali trayek 20 kilometer (km). Jika setiap km dia berhenti, jadi dalam satu jalur/satu kali jalan dia berhenti 20 kali. Kalau dalam sehari dia bolak-balik jalur yang sama, atau melalui jalur yang sama 4 kali, maka dalam sehari = 80 kali berhenti! Bayangkan, 80 kali waiting in vain dalam sehari!

Belum lagi jika ditilik dari banyaknya waktu yang terbuang. Jika sekali berhenti sia-sia (wait in vain) lamanya 5 menit, maka dalam sehari = 80 x 5 menit = 400 menit. Jadi dalam sehari seorang sopir angkot wait in vain selama 6 setengah jam! Belum ditambah lagi kalo jalanan macet sampai berjam-jam... :(

Yaah, tentu saja, pemikiran dan cara pandang seorang sopir angkot pasti berbeda dengan kita. Mungkin bagi mereka nggak ada cara lain. For them, no waiting will be in vain. Itu adalah sebuah keharusan. Jika tidak, mereka tidak bisa menafkahi kehidupannya dan keluarganya...

Tough call... because life is tough...

2 komentar:

aRinarRe mengatakan...

Tho of different language, the message got thru. It's nice to realise these lil things in life. Thanks for posting! :D

maheergrant mengatakan...

you're welcome! it's good to know that you got the message... have a good life! :)