Oktober, please, cepatlah berlalu! Gue terus-terusan mengatakan itu pada diri sendiri. Yes, I'm waiting for a big leap in November. Makanya gue pengen November cepetan datang. Seperti yang sudah gue ceritain ke beberapa temen dekat gue, di sekitar pertengahan November, akan ada:
My first novel is going to get published!
*adegan close up* *flash flash flash*
gue bagi sedikit excerpt-nya di sini ya:
Aku mematikan komputer lalu membaringkan diriku di atas tempat tidur. Kubungkus seluruh tubuhku dengan selimut. Namun setelah beberapa lama, aku tetap terjaga.
Karena sebuah pikiran seram menghantuiku.
Bagaimana aku bisa membedakan yang mana mimpi yang mana kenyataan?
Apa yang berbeda antara pengalamanku bersama Diana dan pengalamanku bersama Sharen?
Kebersamaanku dengan Diana terjadi di kehidupan nyata, berbeda dengan Sharen yang hanya mimpi. Ya, kalau itu sih aku tahu.
Tapi aku berpikir seperti ini: setelah kebersamaanku bersama Diana berakhir, semua hal itu hanya akan menjadi memori belaka, kan? Momen-momen kami berdua, seperti kencan pertama dan ciuman pertama hanya akan menjadi tak lebih dari beberapa kilobyte di dalam harddisk memoriku.
Tapi bukankah hal yang sama terjadi kepada Sharen? Meskipun aku tidak pernah memilikinya di dalam kehidupan nyata, namun dia berada di dalam memoriku juga. Aku dan dia sama-sama mengalami kencan pertama dan ciuman pertama, yaitu di dalam mimpiku.
Sharen berada di dalam mimpiku, lalu setelah mimpi itu berakhir, dia hanya jadi memori.
Diana pernah berada di dalam kehidupanku, namun hubungan kami berakhir, sehingga sekarang dia juga tak lebih dari sekedar memori.
Sharen=memori. Diana=memori.
Tak ada bedanya sama sekali.
Pada saat itu suatu kutipan dari film Waking Life kembali terngiang di pikiranku, ’They say that dreams are only real as long as they last. Couldn't you say the same thing about life?’
Benar sekali.
Hidup tak lebih nyata dibandingkan mimpi.
Waktu tak lebih dari sekedar ilusi.
Siapapun diri kita atau orang yang bersama dengan kita sekarang, semuanya suatu saat hanya akan menjadi memori.
Jadi, tak peduli sebesar apapun cinta kita terhadap seseorang, pada akhirnya toh semuanya akan berakhir.
Menguap menjadi ilusi.
Karena sebuah pikiran seram menghantuiku.
Bagaimana aku bisa membedakan yang mana mimpi yang mana kenyataan?
Apa yang berbeda antara pengalamanku bersama Diana dan pengalamanku bersama Sharen?
Kebersamaanku dengan Diana terjadi di kehidupan nyata, berbeda dengan Sharen yang hanya mimpi. Ya, kalau itu sih aku tahu.
Tapi aku berpikir seperti ini: setelah kebersamaanku bersama Diana berakhir, semua hal itu hanya akan menjadi memori belaka, kan? Momen-momen kami berdua, seperti kencan pertama dan ciuman pertama hanya akan menjadi tak lebih dari beberapa kilobyte di dalam harddisk memoriku.
Tapi bukankah hal yang sama terjadi kepada Sharen? Meskipun aku tidak pernah memilikinya di dalam kehidupan nyata, namun dia berada di dalam memoriku juga. Aku dan dia sama-sama mengalami kencan pertama dan ciuman pertama, yaitu di dalam mimpiku.
Sharen berada di dalam mimpiku, lalu setelah mimpi itu berakhir, dia hanya jadi memori.
Diana pernah berada di dalam kehidupanku, namun hubungan kami berakhir, sehingga sekarang dia juga tak lebih dari sekedar memori.
Sharen=memori. Diana=memori.
Tak ada bedanya sama sekali.
Pada saat itu suatu kutipan dari film Waking Life kembali terngiang di pikiranku, ’They say that dreams are only real as long as they last. Couldn't you say the same thing about life?’
Benar sekali.
Hidup tak lebih nyata dibandingkan mimpi.
Waktu tak lebih dari sekedar ilusi.
Siapapun diri kita atau orang yang bersama dengan kita sekarang, semuanya suatu saat hanya akan menjadi memori.
Jadi, tak peduli sebesar apapun cinta kita terhadap seseorang, pada akhirnya toh semuanya akan berakhir.
Menguap menjadi ilusi.
Yap, basicly, novel itu akan bercerita tentang 'cinta' sebagai tema utama. Namun, jangan keburu memberinya cap 'picisan', apalagi 'generik'. Everyone's got something to prove, right? So, I'm taking my chance. Gue memberi nuansa dark, misterius, contemplative dan tragis ke novel yang --I must say-- terinspirasi pertama kali setelah menonton Crash (2005), salah satu film favorit saya sepanjang masa.
Menarik kan? *promosi* Makanya ntar
beli! *promosi makin menjadi-jadi* Hehehe. Anyways, some folks asked me
about the title. Gue bilang, gue belum tau. Judulnya belum dipilih. But I
have some prospective titles in mind. Mungkin kalian bisa bantu ngasih
masukan juga. Beberapa judul yang masuk ke dalam pikiran saya adalah:
- Hereafter *gue ragu ini akan kepilih, soalnya tar lagi akan ada filmnya Clint Eastwood memakai judul yang sama*
- Here, After *a little difference will do, right?*
- Infatuation
- Love Hurts *ah, jadi inget lagu lawas*
- Episodes
- Here is Gone *a tribute to Goo Goo Dolls, band favorit gue sepanjang masa*
- The Aftermath
- Time and Again
- Never Forever
3 komentar:
bagaimana kalo Episodes, alasannya simple, disini kamu bilang kamu menulis novel ini dan memberi nuansa dark, misterius, contemplative dan tragis...so saya ambil kesimpulan judulnya Episodes aja, gimana?
weiiits...dh mw hadir niy novelnya..
Free for me yeaa..!?? hahaaayy...
yay! selamat ya bentar lagi rilis.. seperti yang di YM kemaren, "ga dapet sample?" . haha :p saya mau plus tanda tangannya di halaman depan, gausah pake tanda bibir.. :))
Poskan Komentar