When you've tried your best but you don't succeed
when you get what you want but not what you need
could it be worse?
FIX YOU - Coldplay
Memang sudah berlalu seminggu lebih sejak final Piala AFF. Kita semua sudah tahu bahwa Indonesia gagal lagi menjadi juara di final ke-empat sejak bergulirnya kompetisi ini. Harapan ratusan juta fans sepakbola di Indonesia pun belum bisa terpenuhi.
Well, saya nggak bisa bisa menolak, bahwa telatnya postingan ini keluar karena memang saya masih terasa nyesek dengan kegagalan Indonesia. Sebagai pengikut setia tim Garuda sejak zaman saya masih SD, gelar juara (apapun itu) pasti saya damba-dambakan. Makanya, melihat pejuang-pejuang kita gagal juara setelah mengeluarkan segenap kemampuan mereka, it's unexplainable... haru, sedih, putus asa, berbaur menjadi satu...
Anyway, rasanya yang paling tidak bisa saya lupakan adalah momen ketika Irfan Bachdim diganti. Kamera jelas-jelas menyorot wajahnya yang berlinang air mata. Selepas peluit panjang dibunyikan, pemain-pemain lain juga menangis. Air mata yang keluar sebagai wujud ketika tubuh sudah tidak mampu lagi menahan beratnya beban psikologis. Dan ya, yang menyesakkan adalah, ketika kita gagal, air mata itu akan menjadi air mata kesedihan.
Apakah kalian pernah berada di posisi Irfan dan pemain-pemain lainn yang menangis seusai laga itu? Saya pernah. Ya, ingatan saya langsung melayang ke tahun 2005. Saat itu saya mewakili Unpad untuk kompetisi Indonesian Varsity Debating Championship (IVED) di Universitas Binus. Too bad, saat itu tim kami kalah di 16 besar, di saat kami sudah berpikir, we've done our best. But well, we lost. As always, reality bites.
Tahun 2008, hal yang sama terjadi juga. Saat itu kompetisi futsal antar asrama. Saya mewakili anak-anak Sulawesi Selatan melawan tim Kalimantan Selatan yang harus ditentukan lewat adu penalti. Saat itu saya menjadi salah satu penendang penalti. Dan saya gagal. Tim kami semua menangis. Jika ada orang yang bilang, kenapa kalian cengeng begitu? Itu kan hanya permainan. F*ck off! It's NOT just a game. It's everything we've done our best in.
And so does everything in our life that we've given our best, too. Perjuangan menggapai cita-cita atau mimpi. Perjuangan untuk membahagiakan orang lain. Pengorbanan untuk membuat orang lain mencintai kita.
Jika berhasil, bersuka ria-lah. Itu hak kalian.
Jika gagal, menangislah. Itu juga hak kalian.
Setelah selesai, jalankan sebuah perjuangan baru lagi. Apapun itu.
That's how life goes. That's how the world turns.
<_mp_>
0 komentar:
Poskan Komentar