Rabu, 16 Maret 2011

Trying to Be (Like) Nick Hornby

Seminggu lalu, tulisan iseng bernada serius saya dimuat di http://indonesianfootballdiary.wordpress.com/ . Yap, seperti yang kalian ketahui, saya adalah pemerhati bola sejati. Semoga tulisan tersebut juga mewakili pandangan kalian semua, sesama pemerhati sepakbola nasional yang selalu menginginkan sepakbola kita untuk maju. :)


Kalau link tersebut tidak bisa diakses, berikut ini artikel saya tersebut:

Antara LPI, PSM, dan Nurdin Halid
oleh Mahir Pradana ( @maheeeR )

Liga Primer Indonesia (LPI) memang sudah menjadi fenomena. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga sudah sampai ke negara-negara lain. Setelah dibahas beberapa media Inggris dan Brazil, kabar terakhir menyebutkan bahwa seorang jurnalis Belanda bernama Elske Schouten, jurnalis asal koran Harian NRC Hendelsbald, sampai rela datang ke Makassar demi meliput sepak terjang dua orang prominent figure sepakbola Belanda yang terdampar di kompetisi tandingan Liga Super Indonesia tersebut. Kedua figur yang dimaksud adalah mantan pemain timnas Belanda, Wilhelmus "Wim" Gerardus Rijsbergen yang sekarang melatih PSM Makassar dan mantan bintang Ajax Amsterdam, Richard Knopper yang juga memperkuat tim Juku Eja.

Membahas LPI memang tidak pernah ada habisnya. Ketika bertemu dengan beberapa orang sahabat saya sesama pecinta sepakbola di Bandung beberapa minggu lalu, kami terlibat dalam sebuah percakapan santai yang topiknya tentu saja melibatkan LPI. Teman saya yang warga Bandung tidak habis-habisnya membahas Lee Hendrie, mantan pemain timnas Inggris yang sekarang menjadi superstar di LPI bersama Bandung FC. Saya sendiri tidak mau kalah. Sebagai orang Makassar dengan darah PSM yang mengalir di dalam raga, saya tentu saja membanggakan Knopper dan si rising star Diva Tarkas. Nama terakhir sempat disayangkan banyak kalangan karena dianggap membunuh masa depannya sendiri dengan bermain di kompetisi yang tidak diakui PSSI dan FIFA, bukannya berkarir di klub Liga Super seperti yang dilakukan salah seorang rekan seperjuangannya, Djayusman. Di lain pihak, teman saya satu lagi, yang rada malas mengikuti sepakbola Indonesia, hanya berkoar: ‘alah, LPI kan liga tarkam’. Mendengar itu, saya sedikit mendebatnya. Mana ada sih tarkam yang membayar pemainnya milyaran rupiah? Namun, saya membatin, jika mengingat liga ini dijalankan tanpa landasan hukum yang sah dari institusi berwenang, betul juga, apa bedanya LPI dengan tarkam?

Setelah itu, perdebatan tidak kami teruskan terlalu jauh. Meski demikian, kami mencapai sebuah kesimpulan yang agak lucu, yaitu: ‘LPI adalah liga masa depan dengan pemain masa lalu.’ Mungkin karena baru seumur jagung, keberadaan ‘pemain-pemain masa lalu’ yang cukup tenar di era keemasan mereka memang dibutuhkan untuk mendongkrak nilai jual LPI. Alasan inilah yang menjelaskan keberadaan Hendrie, Knopper, serta nama-nama lain seperti Amaral, Emanuel de Porras dan beberapa mantan bintang timnas yaitu Nur Alim, Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti dan Kurnia Sandy.

Di akun Twitter, saya malah sempat menambahkan,’LPI adalah liga masa depan dengan pemain masa lalu. Plus stadion masa lalu karena stadionnya memiliki fasilitas yang memprihatinkan dan lapangannya becek melulu.’ Beuh, siapa yang tahan melihat pertandingan diadakan di lapangan yang becek jika hujan dan keras berbatu ketika panas? Celakanya, sebagian besar lapangan yang dipakai di LPI menghadapi kondisi seperti ini. Inikah liga yang digadang-gadang sebagai ‘liga masa depan’ itu?

Sejujurnya, saya sendiri juga mungkin tidak akan seheboh ini mengikuti update LPI jika tim yang saya dukung sejak kecil, PSM Makassar, tidak menyeberang ke liga tersebut. Sebagai putra Bugis yang lahir dan besar di Makassar, tentu saja warna merah adalah warna fanatisme sepakbola saya, semerah ikan merah (juku eja) yang menjadi julukan klub kebanggaan ibukota Sulawesi Selatan itu.

Saya telah mengikuti sepak terjang PSM sejak bangku sekolah dasar. Saya termasuk generasi yang berbangga hati melihat penampilan luar biasa PSM yang mencapai final Liga Dunhill (nama Liga Indonesia saat itu) pada tahun 1996 meskipun takluk oleh Mastrans Bandung Raya. Saat itu, anak-anak asuh M. Basri yang diperkuat oleh Jacksen Tiago, Luciano Leandro dan Yusuf Ekodono tersebut merupakan salah satu klub terkuat wilayah timur Indonesia. Bahkan, saya tidak malu-malu mengakui bahwa semasa kecil saya mengagumi sosok Nurdin Halid yang saat itu bagaikan seorang super-manager. Masih bersih dari segala tuduhan korupsi, saat itu Nurdin bahkan mengumpulkan lebih banyak pemain bintang di PSM pada musim 1999/2000. Beberapa pemain yang dikumpulkannya antara lain Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, dan Hendro Kartiko. PSM pun dibawanya menjadi juara liga pada musim tersebut.

Namun, memang menakjubkan melihat perubahan yang bisa terjadi dalam satu dekade. Keadaan berbalik total seratus delapan puluh derajat. Semua ketakjuban yang merekah di awal dekade 2000-an kini musnah tak bersisa. Lupakan kesaktian Nurdin Halid pada akhir tahun 2000. Di penghujung 2010, Indonesia dan bahkan dunia telah melihat Nurdin Halid sebagai musuh nomor satu di persepakbolaan Indonesia. Sebagai ketua PSSI yang telah menjabat sejak 2003, Nurdin adalah orang paling bertanggung jawab atas kemerosotan prestasi timnas Indonesia dan carut-marutnya kompetisi sepakbola nasional.

Bagaimana dengan kejayaan PSM? Yah, saya hanya bisa mengurut dada. Setelah melewati pertengahan dekade 2000-an dengan prestasi gemilang meskipun tidak pernah juara (tiga kali menjadi runner-up, sekali menjadi semifinalis, dan dua kali masuk delapan besar), PSM masih mengorbitkan beberapa pemain nasional seperti Ponaryo Astaman, Syamsul Chaeruddin, Irsyad Aras dan Syamsidar hingga ke level tim nasional. Beberapa pemain asing juga merintis kebintangan mulai dari klub ini, antara lain Christian Gonzales, Ronald Fagundes, Abanda Herman dan Ali Khaddafi. Namun, di akhir musim 2009/2010, PSM kekeringan prestasi. Finis di posisi ke-13 dan nyaris terkena degradasi sama sekali bukanlah suatu kebanggaan.

Puncaknya, di awal tahun 2011, ketua umum PSM, Ilham Arief Sirajuddin, mendeklarasikan pengunduran diri PSM dari Liga Super Indonesia untuk bergabung dengan LPI. Singkatnya, alasannya adalah Liga Super Indonesia sudah tidak sehat lagi karena terlalu banyak kecurangan yang diatur oleh PSSI. Bagi sebagian orang, tindakan mundur ini bagaikan petir di siang bolong. Padahal sebelum mundur, PSM duduk di posisi dua dan sempat mengecap puncak klasemen. Asa masyarakat Sulawesi Selatan yang sempat membubung untuk kembali melihat PSM menjadi juara liga pun lenyap. Banyak kalangan yang menyayangkan perpindahan yang ditengarai bermuatan politis tersebut. Mereka berpendapat bahwa tidak sepantasnya PSM, yang merupakan salah satu klub sepakbola tertua di Indonesia (berdiri tahun 1915), meninggalkan kompetisi padahal seharusnya menjadi contoh bagi klub-klub yang baru berdiri dan sedang berkembang. Selain itu, dengan berpindah ke liga yang masih baru tanpa struktur kompetisi maupun pengembangan usia muda yang jelas, PSM bagaikan membunuh bibit-bibit pemain mudanya sendiri.

Jadi, apa sebenarnya kesimpulan dari tulisan saya ini? Well, anggap saja ini sebagai semacam curahan hati seorang penggemar fanatik PSM yang hanya bisa mengurut dada melihat segala macam perubahan tidak menyenangkan yang muncul bertubi-tubi seperti benang kusut. Sekarang, konsekuensi yang harus dijalani oleh setiap penggemar PSM adalah harus mendukung sepak terjang klub kesayangan mereka tersebut di suatu liga yang sama sekali baru, ingar-bingar yang sama sekali berbeda, dan atmosfer yang benar-benar asing. Semoga keputusan pengelola PSM pindah ke LPI benar-benar demi kebaikan bersama dan bukan karena motif politis semata. Semoga PSM memang sedang berjalan menyusuri suatu garis yang menuju ke arah perubahan sepakbola Indonesia yang lebih baik, atau sebuah ‘liga masa depan’ yang katanya ideal. Meskipun semua ini harus ditempuh dengan cara berkompetisi dengan ‘pemain-pemain masa lalu’ dan bermain di beberapa ‘stadion masa lalu’.

Ewako, PSM!

(9 Maret 2011)

*Penulis adalah suporter setia PSM dan pemerhati sepakbola Indonesia. Juga menulis novel berjudul ‘Here, After’ yang terbit pada November 2010.

0 komentar: