Sabtu, 19 November 2011

HERE, AFTER AND THE FIELD OF DREAMS

It's not over... yet!

Ternyata, postingan saya sebelumnya tentang keberhasilan novel saya, 'Here, After', masuk ke 10 Besar Anugerah Pembaca Indonesia 2011, masih berlanjut. Pada tanggal 17 November 2011, saya memperoleh kabar bahwa perjalanan novel pertama saya itu ternyata berhasil mencapai tahap akhir seleksi penghargaan tersebut: yaitu shortlist alias 5 besar!

Well, this is another sweet surprise. Di postingan sebelumnya, saya sudah melukiskan besarnya kebahagiaan saya bersanding dengan penulis-penulis yang punya nama besar dengan pengalaman segudang. Sekarang, saya ingin berbagi bahwa dengan keberhasilan 'Here, After' masuk ke jajaran bergengsi ini, tidak ada yang tidak mungkin!


You see? Jika dilihat dari awal--siapa sih saya, dan apalah artinya 'Here, After' dibandingkan dengan judul-judul lain yang masuk nominasi? Ketika pertama kali dirilis di toko buku, promosi paling sederhana yang bisa saya lakukan untuk 'Here, After' adalah memanfaatkan social media, yaitu mempublikasikan terbitnya karya pertama saya ini di Twitter dan Facebook, selain tentunya blog pribadi saya ini. Tidak tertutup kemungkinan, pada saat itu banyak teman saya yang risih atau jengkel karena mereka telah saya 'tag' tanpa permisi di Facebook. Yah, bisa dibilang saat itu, saya tidak peduli. Yang saya pedulikan hanyalah ingin 'mengawal' novel saya ini, yang tidak lain adalah perwujudan nyata mimpi saya sejak kecil sampai diketahui oleh khalayak.

Tentu saja, tag Facebook atau celotehan di Twitter tidak sebanding dengan misalnya, promosi judul-judul buku lain yang lebih mentereng. Di saat saya masih mengandalkan fasilitas sederhana dan serba gratis seperti Facebook, blog dan Twitter, buku-buku saingan sudah memperoleh promosi yang lebih mentereng dan 'terhormat'. Poster buku A sudah menghiasi setiap toko buku besar di seluruh kota di Indonesia jauh sebelum bukunya terbit. Penulis buku B sudah bersiap dengan sesi penandatanganan ribuan cetakan pertama yang akan segera dikirimkan sebagai strategi pemasaran dengan cara pre-order. Begitu buku-buku tersebut terbit, mereka akan mendominasi etalase-etalase toko-toko buku besar sehingga membuat novel-novel 'kecil' karya para penulis baru tergusur sampai ke rak paling terpencil. Hal tersebut yang sempat saya takutkan akan terjadi kepada novel karya saya.

Lalu, di saat penulis A dan penulis B diundang ke radio-radio dan stasiun televisi terkenal untuk mempromosikan buku mereka, saya toh tidak bisa berharap banyak. Sebagai seorang penulis 'anak kemaren sore', siapa sih yang mau mengundang saya untuk mengisi talkshow? Tapi, saya tidak kehilangan akal, tentu saja. Saya segera menghubungi beberapa teman yang bekerja sebagai announcer di beberapa radio di Jakarta, Bandung, dan Makassar. Untungnya, mereka semua bersedia membantu saya untuk mengisi acara talkshow secara gratis, meskipun bentuknya bermacam-macam. Bahkan ada yang cuma mengizinkan saya berbicara selama kurang lebih 10 menit (karena beberapa menit sisanya itu diisi dengan iklan). Tapi bagaimanapun, saya sudah cukup mensyukuri semua itu. 

Selain itu, saya memberanikan diri untuk melakukan talkshow dari satu toko buku ke toko buku lain. Penerbit saya sempat mewanti-wanti bahwa sangat riskan bagi seorang penulis baru melakukan promosi toko buku, karena besar kemungkinan talkshow tersebut hanya akan dihadiri oleh sedikit orang. Saya pun sadar, bahwa saya sama sekali belum punya nama besar maupun kharisma yang dapat menarik perhatian audiens di talkshow saya. Toh, saya tidak kehabisan akal. Talkshow saya pada akhirnya selalu penuh--meskipun yang membuatnya penuh adalah teman-teman dekat saya sendiri. Memang selalu ada empat atau lima orang pengunjung yang telah membaca novel saya, namun tetap saja, yang membuat talkshow saya rame (termasuk yang mengajukan pertanyaan di sesi tanya-jawab) sebagian besar adalah teman-teman saya. Namun, saya selalu melakukannya tanpa terbebani dan penuh suka cita. Bahkan, banner talkshow pertama saya yang diadakan pada bulan Desember tahun lalu di Istana Plaza Bandung saya bawa pulang untuk dipajang di kamar tidur saya. Yah, lagi-lagi, sebagai simbol perwujudan mimpi saya.

After all, saya harus bersyukur, bahwa semua usaha yang saya lakukan akhirnya terbayar dengan pengakuan insan perbukuan Indonesia terhadap karya pertama saya. Masuk shorlist alias top 5 nominasi adalah buktinya. I should open a bottle of champagne for this moment. :p

Anyway, saya ingin menutup postingan ini dengan sedikit menceritakan sebuah film yang dibintangi Kevin Costner yang berjudul 'Field of Dreams'. 

Di film tersebut, karakter Kevin Costner adalah sebuah petani sukses dengan keluarga yang bahagia. Namun, kecintaannya terhadap olahraga baseball dan sebuah 'bisikan' yang terus menghantui membuatnya mengambil suatu keputusan yang mengagetkan masyarakat di sekitarnya. Dia rela membabat habis tanaman jagungnya--yang notabene merupakan sumber penghasilannya--dan menyulap lahan pertaniannya menjadi sebuah lapangan baseball. Pada akhirnya, bisa ditebak, lapangan baseball itu menjadi perwujudan mimpinya sejak kecil. Field of Dreams.

Nah, salah satu kutipan terkenal di film ini berbunyi:

'If you build it, they will come...'

Kalimat sederhana itu memang multi-tafsir. Tetapi, bagi saya, semuanya make sense. You gotta fight for your own dreams. No one is going to build it but your own self. At the end, everything that you've been dreaming of, will come...

Yah, seperti halnya Kevin Costner di Field of Dreams, saatnya saya melihat ke belakang dan bersyukur atas semua usaha yang saya lakukan, dan tentu saja, berterima kasih kepada semua orang yang telah mendukung saya. Semua orang yang telah mempersilakan saya talkshow gratis di radio. Semua karyawan penerbit yang telah mengaturkan talkshow toko buku saya. Semua orang yang telah hadir dan meramaikan talkshow toko buku saya. Semua pembaca yang memberi feedback di Twitter maupun website goodreads.com . Bahkan kepada semua yang telah membantu meng-share info tentang 'Here, After' atau sekadar meng-klik pilihan 'like' untuk setiap postingan terkait novel saya itu. 

I could not ask for more... :)

p.s.: of course, don't forget to vote 

MP

5 komentar:

bisot mengatakan...

siap!, ke TKP

Unknown mengatakan...

Setelah kesulitan pst ada kemudahan k'...terus semangat...ditunggu "here,after"2 berikutnya :D

belong's to iis mengatakan...

\(^_^)/

Anonim mengatakan...

Sedih kisah putra-nia-arya :'( bagus banget ceritanya

robinBIEBLOGwijaya mengatakan...

I've read the book.
Udah sepantasnya bangga dengan 'the only - your style - of romance novel' yang lo tulis.
Konsep unik dengan 1 chapter - 1 tokoh, dan mixing genre pas chapter (siapa itu gue lupa) yang membunuh susternya sendiri.
Two Thumbs Up!!!!